Kamis, 08 Mei 2014

PLEASE WELLCOME, REAL MADRID vs ATLETICO MADRID !!!

     Real Madrid adalah klub sepakbola asal kota Madrid, Spanyol, yang pertama kali didirikan pada tahun 1902 oleh para mahasiswa Oxford, dan Cambridge. Sejak pertama kali berdiri, hampir tak terhitung lagi jumlah gelar juara yang mereka koleksi. Itu semua mengukuhkan mereka menjadi klub sepakbola terbesar di dunia. Tak bisa disangkal memang. Apalagi menilik penampilan impresif mereka pada musim 2013/2014 ini, dibawah rezim Carlo Ancelotti. Patut diacungi jempol, bung. Sudah menggenggam piala raja setelah mengalahkan Barcelona pada laga final dengan sangat mengesankan, masih turut meramaikan perebutan gelar liga Spanyol bersama Barcelona dan Atletico Madrid, kini mereka juga berpeluang mengukuhkan diri sebagai penguasa Eropa setelah menendang juara bertahan Bayern Munchen pada semi final lalu. Satu-satunya masalah mereka musim ini hanya satu, Atletico Madrid.
     Lahir satu tahun setelah Real Madrid, Atletico Madrid memang tak sekonsisten Barcelona dalam hal menyaingi saudara tua mereka ini. Tapi delapan bulan yang lalu, siapa yang berani meramalkan fakta yang terjadi saat ini? Saya rasa tidak ada. Di liga Spanyol, Atletico Madrid terang-terangan mengangkangi Barcelona dan Real Madrid dalam perburuan gelar. Seolah tak puas sampai disitu, mereka bahkan membuntuti Real Madrid sampai ke partai final liga champions Eropa. Betapa awesome.
     Apa yang menarik adalah, Atletico Madrid mampu melakukan semua ini dengan perbedaan kasta dan harta, serta kesenjangan gaji yang luar biasa. Siapa yang saat ini melihat Real Madrid, Manchester City, PSG, dan AS Monaco kemudian mengatakan sepakbola bisa dibeli, mari menyimak ini.
Real Madrid sanggup menggaji Cristiano Ronaldo dengan 288 ribu poundsterling per pekan, hingga menempatkan ia sebagai pesepakbola termahal kedua seantero bumi, hanya kalah dari bomber Manchester United, Wayne Rooney yang dibayar 300 ribu poundsterling per pekannya. Sedangkan di Atletico Madrid, Diego Costa, ujung tombak andalan mereka sepanjang musim ini hanya dibayar 12.034 poundsterling per pekan. Jika Cristiano Ronaldo bisa membeli dua Ferrari setiap malam minggu, Diego Costa harus menabung selama tiga bulan, dengan catatan tak makan tak minum selama itu. Apalagi kalau kita mau mengungkit keseluruhan gaji pemain kedua klub dalam satu musim. Real Madrid menggaji bintang-bintangnya dengan 180,6 juta poundsterling per tahun, sedangkan Atletico hanya 59,1 juta per tahun. Ya, betul, hanya sepertiganya. Tapi disinilah, bung, Atletico menegaskan pada kita semua, bahwa sepakbola tetaplah sepakbola.
     Mari kita ke atas lapangan. Real Madrid musim ini konsisten dengan pola 4-3-3. Mengandalkan trio Benzema, Bale, dan CR7 di depan. Sedangkan jenderal lapangan tengah, dijabat oleh Xabi Alonso. Kemudian di palang pintu, mereka punya Sergio Ramos, dan Pepe. Hanya orang sinting yang berani mempertanyakan kualitas pemain-pemain ini. Dengan pelatih sarat pengalaman sekaliber Carlo Ancelotti, saya ingin mengibaratkan Real Madrid, dengan kelinci yang cerdik. Mereka tahu bagaimana harus bersikap. Tergantung situasi dan kondisinya. Contohnya bandingkan saja ketika mereka melawan Barcelona pada final Copa del Rey, atau meladeni Munchen pada semifinal liga champions, dengan ketika mereka mendaging-penyetkan Schalke 1-6 pada babak perdelapan final liga champions. Ketika melawan Barca dan Munchen, meski turun dengan line up 4-3-3, alih-alih menyerang, pada prakteknya mereka menunggu dengan pola 4-5-1, baru kemudian mengandalkan serangan balik yang kemudian diakui Pep Guardiola sebagai serangan balik terbaik di dunia. Sedangkan ketika melumat Schalke? Mereka kesetanan, menyerang seolah besok tak akan pernah ada. Inilah Carlo Ancelotti, penyulap yang menciptakan Real Madrid rasa Italia, tapi tak meninggalkan jati diri mereka yang sebenarnya.
     Bagaimana dengan Atletico Madrid? Kalau tadi saya menyinggung-nyinggung soal serangan balik, tanya mereka bagaimana melakukannya dengan baik dan benar. Atletico Madrid dibawah pelatih anyar Diego Simeone adalah contoh nyata sepakbola pragmatis. Jangan pernah mengharapkan sepakbola cantik dan indah pada mereka karena mungkin Simeone akan menyelutuk "kami bukan Barcelona!", atau sepakbola impresif dengan penguasaan brutal di semua sudut lapangan karena mereka juga bukan Bayern Munchen. Baru-baru ini mereka bahkan didominasi oleh Valencia, tapi tetap keluar sebagai pemenang. Jadi jangan heran ketika mereka tampak kebingungan saat menjamu Chelsea di Vicente Calderon yang juga sama pragmatisnya. Bisa ditebak ketika sebuah tim pragmatis berhadapan dengan tim pragmatis lainnya: skor akhir kacamata. Tapi tiba giliran ketika Chelsea harus gantian menjamu mereka di Stamford Bridge, dan terpaksa harus memainkan sepakbola menyerang karena itu leg kedua, dan untuk lolos ke final harganya tak bisa ditawar-tawar lagi: harus menang. Jadi mereka keluar menyerang hingga menempatkan mereka pada posisi yang sebenarnya memang diinginkan sang lawan, Atletico Madrid. Hasilnya, Chelsea keluar sebagai pecundang. Kenapa bisa? Karena Atletico Madrid adalah Atletico Madrid. Begitulah cara mereka memainkan sepakbola, dan memenangkannya. Mereka sudah membuktikan itu.
     Pada partai final liga champions nanti, Real Madrid tahu bagaimana seharusnya mereka memperlakukan saudara sekotanya. Tidak mungkin menunggu, karena mereka sadar bahwa mereka harus keluar, dan bertarung untuk menang. Sedangkan Atletico, sejak pertama kali berdiri, tak pernah ada dalam kamus mereka untuk bertahan dalam sebuah pertandingan derby menghadapi Real Madrid. Apalagi di atas panggung segemerlap final liga champions. Siapa yang nanti keluar sebagai juara akan ditentukan oleh hal-hal kecil, yang dalam hal ini adalah lini serang kedua tim. Lengah sedikit, bayarannya tak 'kan murah: keluar sebagai pecundang nomor satu di seantero Eropa. Inilah si kaya melawan si miskin. Inilah Daud yang tak boleh sama sekali dipandang sebelah mata melawan Goliath yang perkasa. Ladies and Gentlemen, please wellcome! Real Madrid vs Atletico Madrid !!!